
Jawa Timur Senin, 03 Maret 2003
Deby, Sandingkan Tari Jawa Klasik dengan Balet
DARI balik kesejukan udara Surabaya karena mendung, seorang penari yang juga koreografer kelahiran Kediri, Deby Subiyanto (30) terlihat asyik. Penari muda ini tampak bercengkerama dengan seorang lelaki bule dari Negeri Kincir Angin di beranda pendopo Kampus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.
Sementara itu, dari ruang laboratorium seni rupa, tampak mahasiswa seni rupa sedang bergairah berkreativitas. Sang koreografer ini tampaknya lebih suka menengok ke lelaki bule di sebelahnya itu, lalu sesekali pula melepas senyuman nan lembut.
Deby, demikian sapaan koreografer yang masih berstatus mahasiswa semester akhir STKW Surabaya. Dalam perbincangan dengan Kompas mengungkapkan, hasratnya untuk bermukim di Belanda setelah semua urusan perkualiahan beres tahun 2003 ini. "Saya sudah membulatkan niat untuk tinggal di Rotherdam, Belanda, setelah TA (Tugas Akhir-Red) untuk meraih gelar kesarjanaan di STKW ini," ujarnya.
Sebagai salah satu prasyarat kelulusan, Deby putri pasangan suami istri, Sarbi (purnawirawan polisi) dan Wiwik Supriyati (penari) kini harus mempersiapkan sebuah karya tari termasuk makalahnya. Dan, untuk itu pula dia telah menggarap sebuah karya tari topeng Madura. "Menyangkut judul karya, saya masih harus berkonsultasi dengan dosen pembimbing," tuturnya.
Tak hanya sibuk mempersiapkan karya baru untuk kelulusan, Deby pun hari-hari dan bulan-bulan ini hingga Juni mendatang akan disibukkan dengan aktivitasnya sebagai salah seorang yang dipercaya sebagai koreografi tari kolosal pada pembukaan Festival Kesenian Indonesia ke-III sebagai tuan rumah STKW Surabaya, Juni tahun ini.
"Sebenarnya tahun ini saya dapat tawaran selama tiga bulan tinggal di India, tapi saya pending karena harus menuntaskan TA dan menggarap tari kolosal untuk FKI (Festival Kesenian Indonesia)," katanya.
SEBAGAI seorang penari, nuansa gerak tari klasik teramat mengental pada sosok Deby, walaupun gagasan yang menyertainya mengesankan kontemporer. Seperti dalam karya terbarunya Kasih-Nya yang dipergelarkan di Galeri Surabaya (GS), Kompleks Balai Pemuda Surabaya, 26 Februari lalu, Deby tampaknya memang sulit melepaskan diri dari muatan-muatan tari klasik-tradisi itu.
"Basic tari saya memang klasik dan tidak kurang 60 buah karya tari klasik gaya Jawa Tengah yang biasa saya mainkan," ujarnya. Di antara puluhan karya tari klasik gaya Jawa Tengah itu, tari Sri Rejeki, Srimpi, Menak Koncar, dan Klono Bagus.
Menyangkut tari gaya Jawa Timur, seperti remo ataupun gandrung Deby bertutur, "Awal masuk STKW ini saya sempat stres, karena sejak kecil dasar tari yang saya kuasai tari klasik Jawa Tengah, lalu harus belajar tari gaya Jawa Timur," katanya.
Dalam perjalanan waktu yang penari muda ini tidak lagi canggung menarikan joget khas Jawa Timur, seperti remo atau gandrung Banyuwangi. "Saya paling suka tari topeng Madura Arimbi, Jejer Jaran Dawuk (Gandrung) Banyuwangi, Remo Mbolet, dan tari Malangan Topeng Gunungsari," ujarnya.
SEMASA kecil, perempuan penari yang menamatkan jenjang SD (sekolah dasar) hingga SMP (sekolah menengah pertama) di Blora, Jawa Tengah ini bercita-cita menjadi penari balet. Tapi, keinginan masa anak-anak itu tak kesampaian, karena ketiadaan guru tari balet di daerahnya.
"Walaupun ndak jadi penari balet, saya bersyukur bisa berkolaborasi dengan komunitas balet di Surabaya. Dan, tahun 2002 acara festival seni perdamaian di Bali, saya berkolaborasi dengan Tina Bailey dengan karya Walking to Words Peace," ujarnya.
Kolaborasi dua kultur tari klasik Jawa dengan klasik Eropa (balet) yang dipertontonkan Deby dan Tina telah menjadi kenangan teramat manis dan mengesankan pada diri Deby. "Itulah pengalaman saya yang mengesankan, karena bisa menari bersama dengan penari klasik barat, sementara saya menari klasik Jawa," katanya.
Sebenarnya tidak terlampau mengagetkan bilamana Deby ini akan terus eksis sebagai penari maupun koreografer. Sebab, dari darah ibunya adalah seorang penari, sedangkan dari darah ayahnya adalah mengalir seniman pedalangan.
"Kalau dari ayah, kakek saya dikenal sebagai dalang, namanya ki Saki. Sedangkan, dari ibu, nenek saya bernama Maria dikenal sebagai penari," ujarnya.
SEBELUM memasuki jenjang pendidikan tinggi kesenian, STKW Surabaya, Deby mengaku sempat kuliah di IKIP PGRI Kediri tahun 1991/1992. Lalu, kuliah di Ikrim (Universitas Kristen Immanuel) Yogyakarta tahun 1996/1997.
"Cuma satu semester saja saya kuliah sastra Inggris di IKIP PGRI, di Ikrim juga satu semester. Karena, pada Maret-Mei tahun 1997, saya harus mengajar tari anak-anak sekolah dasar di Jerman atas undangan organisasi sosial di sana," katanya.
Pengalaman pendidikan tinggi dari sastra Inggris, lalu pendidikan agama Kristen, dan kesenian dalam bidang koreografi, bagaikan sebuah oase diri Deby yang kini berniat meninggalkan Indonesia untuk bermukim di Belanda bersama calon suaminya, Ralph Verhelst.
Sebagai koreografer, perempuan murah senyum ini, setelah setahun berkuliah di STKW mampu menelurkan sebuah karya tari bertitel "Tamar", tahun 1999. Karya tari ini pun pada tahun itu pula dipergelarkan di dalam Indonesia Dance Festival Ke-V 1999 di Gedung Dewan Kesenian Jakarta.
"Waktu itu saya dapat belajar banyak dari koreografer senior, termasuk bagaimana mengemas seni pertunjukan tari," katanya.
Tak kurang delapan buah karya tari dia lahirkan, selain karya tari Tamar, Holyness, Pilihan, Light in The Darkness, dan Kasih-Nya. Dari kesemua tari ciptaannya itu, Deby sebagai koreografer hendak bertutur tentang jender.
"Saya memang tertarik berbicara tentang jender, karena banyak persoalan yang menimpa wanita, termasuk pelecehan seksual, kekerasan, dan sebagainya. Jadi, melalui karya tari itu saya mencoba mengangkat masalah-masalah wanita," ujarnya.
EKSISTENSINYA sebagai penari, Deby telah pula tampil di dalam sejumlah perhelatan berskala nasional maupun internasional. Di antaranya, November tahun 2002 lalu, tampil di Chiang Mai, Thailand pada acara Konferensi Seniman Se-Dunia yang diselenggarakan International Media in Communications yang bermarkas di California, AS.
"Tahun sebelumnya Pak Bagong mewakili Indonesia, dan tahun 2002, saya beruntung mendapat kesempatan mewakili Indonesia," katanya.
Konferensi Seniman Dunia yang digelar setiap tiga tahun sekali itu berikutnya tahun 2005 akan berlangsung di India. Dan, ia pun berniat untuk menghadirinya, walaupun nanti status tinggalnya di negeri orang. "Moga-moga saja saya bisa tampil di India nantinya," ujarnya.
"Jika, nanti niatan bermukim di Belanda terealisir, saya tetap akan mengajar tari untuk anak-anak di sana. Dan, yang lebih penting bagi diri saya adalah bagaimana memperkenalkan seni budaya Jawa Timur ini ke bangsa-bangsa Eropa dan Amerika," ujarnya. (ABDUL LATHIEF)
Oorspronkelijke URL (artikel is verwijderd):
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/03/jatim/161030.htm
Jawa Timur Kamis, 03 April 2003
STKW Surabaya Tuan Rumah FKI
Surabaya, Kompas - Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya menjadi tuan rumah perhelatan kesenian dan kebudayaan. Kegiatan bertema Festival Kesenian Indonesia (FKI) ketiga tahun 2003 ini akan digelar tanggal 19-22 Juni mendatang
"Sebagai sesama perguruan tinggi kesenian di Indonesia, kami memilih Surabaya karena ingin mengangkat STKW," kata Sumanto, staf pengajar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, di Surabaya, pekan lalu.
STKW sebagai perguruan tinggi seni di Surabaya dan di Jawa Timur (Jatim) memiliki peluang besar untuk membangun kesenian di daerah ini, namun eksistensinya sangat membutuhkan perhatian dan kepedulian masyarakat.
FKI ketiga tahun 2003 ini akan diikuti oleh STSI Surakarta, STSI Bandung, STSI Denpasar, ISI Yogyakarta, IKJ (Institut Kesenian Jakarta), dan STSI Padang Panjang. Menurut jadwal, rangkaian peristiwa kesenian dari perguruan tinggi seni se-Indonesia itu meliputi antara lain pameran seni rupa, pergelaran tari, dan pementasan musik.
"Kami dari STSI Surakarta akan menampilkan tari, seni rupa, dan pameran tosan aji," ujarnya.
STKW Surabaya selaku tuan rumah antara lain telah mempersiapkan pergelaran tari karya Pundjul Pitono bertitel "Selor", dengan penata musik Joko Susilo, dan parade tari "Rampak Kencak" oleh penata tari Deby Subiyanti dan Sri Wahyuni, dengan penata musik Handy Widartoto dan Danang Sukmawan. (TIF)
Oorspronkelijke URL (artikel is verwijderd):
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/03/jatim/235947.htm
Jakarta, Sat, 03/25/2000
Performing arts with a kampong backdrop
Local artists performing at the event included Debby Subiyanti of Surabaya, who staged a dance titled The World; Jemek Supardi of Yogyakarta who put on a pantomime; the Surabaya Youth Music Movement, which performed acoustic music; and puppeteer Slamet Gundono of Tegal, Central Java.
Oorspronkelijke URL:
http://www.thejakartapost.com/news/2000/03/24/performing-arts-kampong-backdrop.html